Allah mendengarkan Semua Doamu, Jangan Putus Asa

Kata mutiara Jangan Putus Asa


Diriwayatkan dari shahabat Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Do’a adalah ibadah”,  kemudian setelah itu beliau membaca ayat

“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60) (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrad no.714)

Di dalam hadits lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda tentang keutamaan do’a, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah ta’ala selain do’a” (HR. Ahmad no. 8733. Syu’iab Al Arnauth berkata bahwa hadits ini hasan)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menyebutkan bahwa do’a adalah ibadah, artinya, do’a adalah rukun utama dalam ibadah kepada Allah ta’ala. Oleh karena itu, barang siapa yang enggan dan malas-malasan dalam beribadah, dapat dipastikan bahwa orang tersebut enggan untuk berdo’a dan memohon hidayah kepada Allah ta’ala . (Lihat Fathul Baari, 18/55)

Do’a merupakan kunci dari segala macam kebaikan. Seorang hamba tidak akan mampu untuk melaksakan ketaatan kepada Allah ta’ala melainkan dengan taufiq dan hidayah dari Allah ta’ala. Taufiq dan hidayah Allah tidak lepas dari do’a seorang hamba kepada Rabb-nya. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan sebuah do’a kepada Mua’dz bin Jabal radhiyallahu’anhu agar dibaca setiap selesai sholat “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik” [Ya Allah, bantulah aku untuk selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu]”. (Sunan Abu Daud, 1522. Syaikh Al Albani berkata hadist ini shohih)

Allah ta’ala menjanjikan akan mengabulkan do’a setiap hamba-Nya dan Allah ta’ala tidak akan menyelisihi janjinya. Bahkan Allah ta’ala akan marah ketika ada seorang hamba yang enggan berdo’a kepada-Nya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang tidak mau berdo’a kepada Allah ta’ala, maka Allah murka kepadanya” (HR. Tirmidzi no.3373. Syaikh Al Albani menilai hadits ini hasan). Ath Thibiy rahimahullah mengatakan, hadits ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala sangat senang ketika seorang hamba berdo’a kepada Allah ta’ala. (Lihat Fathul Baari, 18/55)


Berdo’alah Hanya Kepada Allah Ta’ala

Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, do’a merupakan salah satu bentuk ibadah kepada-Nya, dan ibadah hanyalah hak mutlak Allah ta’ala, tidak ada satu pun bentuk ibadah dari seorang hamba yang boleh ditujukan kepada selain Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang berdo’a kepada selain Allah, tidak ada yang dapat memperkenankan do’anya sampai hari kiamat, dan mereka adalah orang-orang yang lalai dari do’a mereka” (QS. Al Ahqaf: 5)

Allah ta’ala adalah Dzat yang Maha Kaya dan Kuasa untuk mengabulkan permintaan seluruh hamba-Nya. Tidaklah akan mengurangi kekuasaan Allah sedikitpun seandainya Allah ta’ala memenuhi seluruh permintaan hambanya, kecuali hanya bagaikan berkurangnya air laut tatkala sebuah jarum dicelupkan ke dalamnya, artinya yang hilang itu tidak teranggap sama sekali. Maka hendaklah setiap muslim hanya mengadu dan berdo’a kepada Allah ta’ala dalam seluruh perkara yang dia hadapi.


Mengapa Do’aku Tidak Kunjung Dikabulkan?

Banyak orang berdo’a kepada Allah ta’ala, akan tetapi banyak di antara mereka merasa do’anya tidak dikabulkan. Hal semacam ini sering menimpa kaum muslimin pada umumnya. Mereka berharap do’a yang dia panjatkan dapat segera terealisasi. Inilah yang disebut dengan “tergesa-gesa dalam berdo’a”. Seorang muslim sudah sepatutnya menghindari sikap semacam ini, karena sikap tersebut merupakan salah satu penghalang terkabulnya do’a. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Akan dikabulkan do’a salah seorang di antara kalian selama tidak tergesa-gesa dalam berdo’a.” Kemudian beliau ditanya, “Wahai Rasulullah bagaimanakah bentuk tergesa-gesa dalam berdo’a?” Beliau menjawab, “Seseorang yang berdo’a kemudian mengatakan, “Aku telah berdo’a kepada Allah tetapi Allah tidak segera mengabulkan do’aku”. (Sunan Ibnu Majah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa seluruh do’a yang baik, hakikatnya dikabulkan oleh Allah ta’ala, akan tetapi dengan bentuk pengabulan yang bermacam-macam, terkadang Allah langsung memberikan apa yang diminta atau terkadang Allah memberikan pengganti yang serupa, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, “Tidaklah seorang muslim berdo’a dengan do’a yang tidak mengandung dosa di dalamnya, tidak pula do’a yang memutus silaturahmi, melainkan Allah ta’ala akan memberikan satu di antara tiga hal: mungkin Allah akan merealisasikan do’a tersebut, atau mungkin dengan do’a tersebut Allah akan menyelamatkannya kelak di akhirat, atau mungkin Allah akan menghilangkan dari diri orang tersebut kesulitan yang semisal”. (HR. Ahmad, derajatnya hasan shohih) (Lihat Fathul Baari, 18/55)


Bersungguh-Sungguh dalam Berdo’a Kepada Allah Ta’ala

Salah satu tata cara do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam adalah bersungguh-sungguh dalam berdo’a kepada Allah ta’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berdo’a, maka janganlah katakan: Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki, akan tetapi bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, dan perbesarlah harapan, karena Allah tidak akan merasa keberatan dengan sesuatu yang Dia berikan kepada hamba-Nya”. (HR. Muslim. no.2679)

Hendaklah seorang muslim berdo’a kepada Allah ta’ala dengan do’a yang mencakup seluruh kebaikan di dunia maupun di akhirat. Sebagian orang berdo’a kepada Allah meminta kebaikan yang sangat terbatas, sebagian mereka berdo’a, “Ya Allah berikanlah kepadaku ini dan itu”, ataupun do’a yang semisalnya, yang hanya bersifat materi dan duniawi. Lihatlah bagaimana bentuk do’a yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, dan beliau senantiasa mengulang-ulang do’a ini pada setiap kesempatan, “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksaan api neraka”. (HR. Muslim)

Salah satu cara bersungguh-sungguh dalam dalam berdo’a adalah memahami do’a yang diucapkan. Sebagian orang lalai dari memahami dan mengerti makna do’a yang diucapkan. Seakan-akan keluar dari mulut mereka lafadz-lafadz do’a berbahasa arab, sementara hati-hati mereka kosong akan makna do’a tersebut. Padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan, ketahuilah bahwa Allah tidak menerima do’a dari hati yang lalai”. (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani).


Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdo’a

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah menjelaskan tentang waktu-waktu yang mustajab untuk berdo’a. Di antaranya adalah saat sepertiga akhir malam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Rabb kami tabaraka wa ta’ala turun setiap malam turun ke langit dunia, hingga tersisa sepertiga malam terakhir, kemudian Allah berfirman (yang artinya): Barangsiapa yang berdo’a, maka akan Aku kabulkan; barangsiapa yang meminta, akan Aku beri; dan barangsiapa yang meminta ampun, Aku akan mengampuninya” (HR. Bukhari)

Waktu yang lainnya adalah waktu-waktu di antara adzan dan iqamah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Do’a antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak”. (HR.Abu Daud, Syaikh Al Albani menilai shahih)

Di antara waktu lain yang mustajab untuk berdo’a adalah ketika sujud, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Saat terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud, maka ketika itu perbanyaklah do’a” (HR. Muslim)

Dan waktu-waktu lainnya yang terdapat keterangannya dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.


Menjauhi Perkara-Perkara yang Diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Salah satu penghalang terkabulnya do’a seorang hamba adalah bergelimangnya hamba tersebut dengan benda-benda dan harta yang diharamkan oleh Allah ta’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah mengisahkan seorang laki-laki yang menempuh suatu perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tanganya ke langit (berdo’a kepada Allah) : Ya Rabbi, Ya Rabbi. Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia tumbuh dengan harta yang haram. Kemudian beliau mengatakan: Bagaimana mungkin do’anya bisa dikabulkan? (HR. Muslim) Syaikh ‘Abdurrazaq Al Badr hafidzohullah menjelaskan bahwa hadits ini juga mengisyaratkan bahwa seorang yang berdo’a hendaklah menjauhi kemaksiatan dan segera bertaubat dari kemaksiatan yang dilakukan. (Rekaman ceramah Syaikh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Badr dengan judul Fiqhu Ad Du’a)


Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik di sini.

Tag : Artikel
Back To Top